Kenapa Anak Bisa Kembali Cemas Setelah Nyaman di Daycare?

Ilustrasi doodle anak kecil yang terlihat ragu memeluk boneka di depan pintu daycare yang ceria, didampingi pengasuh

Setelah berminggu-minggu berjuang dengan tangisan setiap pagi, akhirnya momen melegakan itu datang: anak mulai ceria saat diantar ke daycare, lari menyambut pengasuh, dan tidak lagi menangis saat ditinggal. Namun, tanpa sebab yang jelas, suatu hari ia tiba-tiba menangis lagi, menempel erat pada orang tua, atau menolak masuk kelas seperti sebelumnya. Banyak orang tua bingung dan merasa gagal saat hal ini terjadi, apalagi jika sudah merasa proses adaptasi selesai. Padahal, anak kembali cemas setelah nyaman di daycare adalah hal yang cukup umum terjadi dan biasanya bukan tanda kemunduran permanen, melainkan bagian alami dari perjalanan tumbuh kembang anak.

Apa Itu Regresi dalam Proses Adaptasi Anak?

Dalam proses tumbuh kembang anak usia dini, regresi adaptasi terjadi ketika anak yang sebelumnya tampak nyaman tiba-tiba menunjukkan perilaku seperti di awal masa penyesuaian: menangis saat ditinggal, rewel tanpa alasan yang jelas, atau menolak berpisah dengan orang tua. Kondisi ini berbeda dengan fase awal adaptasi yang pernah dibahas dalam artikel ciri anak sudah berhasil beradaptasi di daycare, karena regresi biasanya muncul justru setelah anak sempat melewati fase tersebut dengan baik, bukan karena ia belum pernah beradaptasi sama sekali. Pola regresi semacam ini juga sering terjadi pada aspek lain dalam tumbuh kembang anak, misalnya anak yang sudah lancar toilet training tiba-tiba kembali mengompol, atau anak yang sudah bisa tidur sendiri tiba-tiba ingin ditemani lagi. Prinsip yang sama berlaku untuk adaptasi di daycare.

Penyebab Anak Tiba-Tiba Cemas Lagi di Daycare

Ada banyak faktor yang bisa memicu anak kembali cemas setelah nyaman di daycare. Beberapa di antaranya terlihat jelas, tapi ada juga yang luput dari perhatian orang tua karena tampak sepele.

  • Perubahan rutinitas di rumah, misalnya jadwal tidur yang bergeser atau kedatangan anggota keluarga baru
  • Pergantian pengasuh atau teman sekelas yang membuat anak merasa asing lagi
  • Anak baru sembuh dari sakit sehingga lebih sensitif dan mudah rewel
  • Memasuki fase perkembangan tertentu, saat anak menjadi lebih sadar akan perpisahan dengan orang tua
  • Kelelahan fisik akibat jadwal harian yang padat, baik di rumah maupun di daycare

Mengenali penyebab yang paling mungkin akan membantu orang tua menentukan respons yang tepat, daripada hanya menganggap anak tiba-tiba menjadi manja atau cengeng.

Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Regresi adaptasi biasanya tidak datang tiba-tiba tanpa sinyal sama sekali. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak kembali menangis saat proses antar-jemput, susah tidur siang di daycare, nafsu makan menurun, atau menjadi lebih rewel saat pulang ke rumah. Jika tanda-tanda ini hanya berlangsung beberapa hari lalu mereda dengan sendirinya, biasanya itu bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Namun, jika kondisi ini berlangsung berminggu-minggu tanpa perubahan atau disertai gejala lain yang mengganggu keseharian anak, ada baiknya digali lebih dalam bersama pengasuh di daycare.

Berapa Lama Fase Regresi Biasanya Berlangsung?

Pada banyak kasus, regresi adaptasi berlangsung selama beberapa hari hingga dua minggu, terutama jika pemicunya jelas seperti baru sembuh dari sakit atau ada perubahan rutinitas sementara di rumah. Namun, durasinya bisa berbeda-beda pada setiap anak karena setiap anak memiliki temperamen dan kecepatan adaptasi yang berbeda. Yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama fase ini berlangsung, tetapi juga apakah intensitasnya semakin berkurang dari hari ke hari atau justru semakin parah dari waktu ke waktu.

Cara Mendampingi Anak Melalui Fase Ini

Orang tua tidak perlu panik saat menghadapi fase ini. Beberapa langkah berikut bisa membantu anak melewati masa regresi dengan lebih tenang:

  • Tetap konsisten dengan ritual pamit, misalnya pelukan singkat dan kalimat perpisahan yang sama setiap hari
  • Beri waktu ekstra di pagi hari agar anak tidak merasa terburu-buru saat diantar
  • Hindari berlama-lama saat berpisah karena justru bisa memperpanjang kecemasan anak
  • Jaga konsistensi jadwal tidur dan makan di rumah meski anak sedang dalam fase ini
  • Validasi perasaan anak tanpa berlebihan, misalnya dengan mengatakan bahwa wajar merasa sedih, tapi ayah atau ibu akan selalu kembali menjemputnya

Konsistensi dari orang tua menjadi sinyal rasa aman yang paling kuat bagi anak, bahkan ketika ia sedang berada dalam fase yang tidak nyaman. Anak belajar bahwa meski perasaannya berubah-ubah, orang-orang di sekitarnya tetap bisa diandalkan.

Kapan Saatnya Berdiskusi dengan Pengasuh di Daycare

Jika regresi berlangsung lama atau disertai perubahan perilaku yang signifikan, komunikasi terbuka dengan pengasuh menjadi kunci. Di Semesta Kecil, Kantong Daycare berbasis konsep Smart Neighborhood di Jakarta Selatan, pengasuh terlatih untuk mengenali perubahan kecil pada perilaku anak dan membagikannya melalui laporan harian kepada orang tua. Pendekatan ini didukung oleh kurikulum yang dirancang berdasarkan 5-6 domain perkembangan anak, sehingga pengasuh dapat memberikan dukungan yang sesuai saat anak mengalami fase naik turun seperti ini. Jika si kecil sedang mengalami regresi adaptasi dan Anda ingin berdiskusi lebih lanjut, tim Semesta Kecil siap membantu menemukan pendekatan pendampingan yang paling cocok untuknya.

Artikel terkait

Ada pertanyaan? Chat kami di WhatsApp