Anak Sering Mengadu Saat di Daycare, Wajarkah?

Ilustrasi doodle anak kecil bercerita kepada pengasuh di daycare tentang temannya

Saat menjemput anak dari daycare, tidak sedikit orang tua yang disambut dengan laporan panjang: "Bu, tadi Kak Dion yang ambil mainan aku duluan," atau "Yah, aku nggak nakal kok, dia yang mulai." Jika si kecil sering mengadu saat di daycare, orang tua tidak perlu langsung cemas. Perilaku ini umum terjadi pada anak usia dini dan biasanya merupakan bagian dari proses belajar mereka memahami aturan sosial.

Kenapa Anak Sering Mengadu Saat di Daycare?

Di usia 2-5 tahun, anak baru mulai mengembangkan kemampuan regulasi diri dan pemahaman tentang adil atau tidak adil. Mengadu sering menjadi cara mereka memastikan bahwa aturan tetap berlaku dan mencari validasi dari orang dewasa yang mereka percaya. Ini berkaitan dengan domain perkembangan sosial-emosional, salah satu aspek yang diakui penting untuk distimulasi sejak usia dini dalam kerangka perkembangan anak seperti yang disusun WHO maupun HSELOF. Anak belum memiliki kosakata atau strategi yang cukup untuk menyelesaikan konflik kecil sendiri, sehingga melapor ke pengasuh atau orang tua terasa menjadi solusi paling aman bagi mereka.

Tanda Mengadu yang Wajar vs yang Perlu Diperhatikan

Tidak semua laporan anak memiliki bobot yang sama. Orang tua dan pengasuh perlu bisa membedakan mana yang sekadar fase belajar dan mana yang benar-benar butuh perhatian lebih serius.

  • Wajar: melapor soal giliran mainan, rebutan tempat duduk, atau ejekan ringan antar teman.
  • Wajar: mengadu setelah mencoba menyelesaikan sendiri namun belum berhasil.
  • Perlu diperhatikan: laporan berulang tentang satu teman yang sama secara konsisten.
  • Perlu diperhatikan: anak melaporkan sesuatu yang menyangkut keselamatan fisik, seperti dipukul atau didorong.
  • Perlu diperhatikan: anak terlihat cemas atau takut saat melapor, bukan sekadar mencari perhatian.

Cara Menyikapi Anak yang Sering Mengadu

Daripada langsung menyuruh anak "jangan mengadu", yang bisa membuat anak enggan bicara saat benar-benar butuh bantuan, orang tua dan pengasuh bisa mencoba beberapa pendekatan berikut:

  • Dengarkan dulu, lalu tanyakan: "Menurut kamu, apa yang bisa kamu lakukan sendiri?"
  • Ajarkan kalimat sederhana untuk menyelesaikan konflik kecil, misalnya "Nanti ya, aku masih main" atau "Aku nggak suka itu, tolong berhenti."
  • Apresiasi usaha anak saat ia mencoba menyelesaikan masalah sebelum melapor.
  • Tetap tanggapi serius jika yang dilaporkan menyangkut keselamatan anak.

Peran Daycare dalam Membantu Anak Belajar Regulasi Diri

Di Semesta Kecil, kurikulum harian dirancang berbasis domain perkembangan anak usia dini, termasuk aspek sosial-emosional, sehingga pengasuh terlatih untuk mendampingi anak melalui konflik kecil, bukan sekadar menyelesaikannya untuk mereka. Pengasuh membimbing anak mengenali perasaannya, mempraktikkan cara bicara yang tepat, dan membangun rasa percaya diri untuk menghadapi situasi serupa di kemudian hari. Kemampuan ini juga berkaitan dengan bagaimana anak belajar berbagi dan mengatasi konflik dengan teman sebayanya. Jika orang tua di Jakarta Selatan sedang mencari tempat yang mendukung tumbuh kembang sosial-emosional anak secara konsisten, Semesta Kecil terbuka untuk kunjungan langsung — orang tua bisa menghubungi tim kami untuk menjadwalkan tur dan berdiskusi lebih lanjut tentang kebutuhan si kecil.

Kesimpulan

Mengadu adalah bagian normal dari perjalanan anak belajar bersosialisasi. Dengan pendampingan yang tepat dari orang tua dan pengasuh, anak akan perlahan mampu menyelesaikan masalah kecilnya sendiri sambil tetap merasa aman untuk bicara saat benar-benar membutuhkan bantuan.

Artikel terkait

Ada pertanyaan? Chat kami di WhatsApp