Pertimbangan Resign Kerja demi Mengasuh Anak Sendiri
September 28, 2026

Pertimbangan Resign Kerja demi Mengasuh Anak Sendiri
Bagi banyak orang tua bekerja di Jakarta, pertanyaan ini pasti pernah terlintas: apakah lebih baik resign dari pekerjaan dan mengasuh anak sendiri di rumah, atau tetap bekerja sambil menitipkan anak ke daycare? Keputusan ini tidak sederhana karena menyangkut keuangan keluarga, karier, sekaligus tumbuh kembang anak. Tidak ada jawaban yang benar untuk semua keluarga, tapi ada beberapa pertimbangan penting yang bisa membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih tenang dan realistis, bukan hanya berdasarkan rasa bersalah atau tekanan sosial.
Alasan Orang Tua Mempertimbangkan Resign Kerja untuk Momong Anak
Ada beberapa alasan umum yang membuat orang tua, terutama ibu, mempertimbangkan resign kerja setelah punya anak. Sebagian merasa gaji yang didapat hampir habis untuk biaya daycare dan transportasi, sehingga secara hitungan kasar terasa tidak sepadan untuk terus bekerja. Sebagian lain merasa lelah membagi energi antara pekerjaan dan momong anak, atau ingin lebih terlibat langsung dalam momen-momen penting tumbuh kembang si kecil. Ada juga yang terdorong oleh pandangan keluarga besar bahwa anak usia dini sebaiknya diasuh sendiri oleh orang tua, bukan pihak lain. Semua alasan ini valid, tapi penting dipisahkan mana yang berdasarkan data dan kebutuhan keluarga, dan mana yang berasal dari tekanan emosional sesaat.
Untung Rugi Resign Kerja demi Mengasuh Anak Sendiri
Sebelum memutuskan, ada baiknya menimbang untung ruginya secara jujur. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum resign:
- Kehilangan penghasilan tetap, termasuk tunjangan dan potensi kenaikan karier di masa depan
- Interaksi anak dengan teman sebaya berkurang, padahal ini penting untuk kemampuan sosial-emosional anak
- Risiko jenuh atau kehilangan identitas profesional bagi sebagian orang tua
- Sulit kembali ke jenjang karier yang sama setelah beberapa tahun absen dari dunia kerja
Sementara itu, keuntungan mengasuh anak sendiri di rumah antara lain waktu bersama anak yang lebih fleksibel, kontrol penuh atas rutinitas harian, dan tidak perlu menyesuaikan jadwal dengan jam operasional daycare. Namun, penting diingat bahwa mengasuh anak sendiri di rumah bukan otomatis lebih baik untuk tumbuh kembang anak — semua tergantung bagaimana stimulasi dan interaksi yang diberikan sehari-hari.
Alternatif Selain Resign Total: Kombinasi Kerja dan Daycare
Resign kerja bukan satu-satunya pilihan jika alasan utamanya adalah ingin lebih dekat dengan anak. Beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan:
- Bekerja paruh waktu atau mengambil skema kerja fleksibel, lalu menitipkan anak ke daycare hanya di jam-jam tertentu
- Menggunakan daycare dengan program half-day agar tetap punya waktu penuh bersama anak di siang atau sore hari
- Bergantian dengan pasangan mengatur jadwal kerja agar salah satu selalu ada untuk anak di waktu-waktu penting
- Memanfaatkan hari kerja dari rumah beberapa kali seminggu sambil anak tetap di daycare agar orang tua bisa fokus bekerja
Kombinasi ini sering memberi keseimbangan yang lebih realistis dibanding memilih salah satu secara ekstrem antara resign total atau bekerja penuh waktu tanpa bantuan sama sekali. Jika pertimbangan utama Anda adalah soal biaya, coba hitung dulu kebutuhan bulanan lewat panduan cara menghitung budget daycare untuk keluarga bekerja sebelum benar-benar memutuskan resign.
Dampak pada Tumbuh Kembang Anak dan Cara Memutuskan
Banyak orang tua khawatir anak akan kurang dekat secara emosional jika terus dititipkan, atau sebaliknya, khawatir anak kurang bersosialisasi jika hanya diasuh di rumah. Menurut WHO dan CDC, yang paling menentukan tumbuh kembang anak usia dini bukan siapa yang mengasuh, melainkan kualitas stimulasi dan interaksi yang diterima anak setiap hari, baik di rumah maupun di lingkungan pengasuhan lain. Artinya, anak yang diasuh sendiri oleh orang tua bisa tumbuh optimal jika mendapat stimulasi yang cukup, dan anak yang dititipkan ke daycare berkualitas pun bisa berkembang baik jika lingkungannya mendukung interaksi sosial, bahasa, dan motoriknya secara konsisten.
Daripada terburu-buru resign atau bertahan karena gengsi, coba jawab beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah penghasilan Anda benar-benar habis untuk biaya pengasuhan, atau masih ada sisa yang bisa ditabung untuk masa depan anak?
- Bagaimana kondisi mental dan energi Anda saat ini — apakah bekerja membuat Anda lebih stabil secara emosional, atau justru semakin lelah?
- Apakah anak mendapat stimulasi sosial dan perkembangan yang cukup di rumah, atau justru lebih terbantu dengan interaksi di lingkungan seperti daycare?
- Apakah keputusan ini bisa ditinjau ulang nanti, misalnya dicoba dulu selama beberapa bulan sebelum menjadi keputusan permanen?
Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan ini biasanya lebih membantu daripada sekadar mengikuti standar "ibu yang baik harus begini" dari lingkungan sekitar.
Daycare Berkualitas Bisa Jadi Solusi Tengah
Bagi keluarga yang ingin tetap berkarier tanpa mengorbankan kualitas pengasuhan anak, daycare dengan kurikulum yang jelas bisa jadi solusi tengah yang realistis. Di Semesta Kecil, smart neighborhood daycare di kawasan Pasar Minggu dan Ampera, Jakarta Selatan, anak-anak mendapat stimulasi harian berdasarkan kurikulum yang mencakup 5-6 domain perkembangan anak usia dini, mulai dari motorik, kognitif, bahasa, hingga sosial-emosional, sehingga orang tua tidak perlu memilih secara ekstrem antara karier dan tumbuh kembang anak yang optimal. Jika Anda masih mempertimbangkan opsi terbaik untuk keluarga, yuk kunjungi Semesta Kecil untuk melihat langsung lingkungan belajar anak sehari-hari, atau hubungi tim kami untuk konsultasi gratis sebelum memutuskan.


