Membagi Tugas Mengasuh Anak untuk Pasangan yang Bekerja

Ilustrasi ayah dan ibu masing-masing menggandeng tangan anak sambil berjalan bersama menuju daycare

Ketika suami dan istri sama-sama bekerja penuh waktu, urusan mengasuh anak sering terasa seperti pekerjaan tambahan yang jatuh ke satu pihak saja. Padahal, membagi tugas mengasuh anak untuk pasangan yang bekerja secara jelas dan adil justru membuat rumah tangga lebih tenang, dan anak tetap mendapat perhatian yang konsisten dari kedua orang tuanya, bukan hanya dari salah satu pihak saja.

Kenapa Pembagian Tugas Perlu Dibicarakan Sejak Awal

Tanpa kesepakatan yang jelas, satu pihak—biasanya sang istri—kerap menanggung “mental load” yang lebih besar: mengingat jadwal imunisasi, menyiapkan perlengkapan sekolah, memikirkan menu makan, sambil tetap mengejar target kerja. Beban yang tidak seimbang ini bisa memicu kelelahan dan gesekan dalam hubungan, meski keduanya sama-sama berkarier dan berniat baik untuk saling membantu.

Karena itu, pembagian tugas sebaiknya dibicarakan secara terbuka sejak awal, bukan berdasarkan asumsi siapa yang “lebih pantas” mengurus anak. Diskusi ini juga perlu diulang secara berkala, karena jam kerja, proyek, atau kebutuhan anak bisa berubah dari waktu ke waktu. Pasangan yang terbiasa membicarakan pembagian tugas secara rutin umumnya lebih cepat menemukan solusi saat ada perubahan mendadak, misalnya jam lembur yang bertambah atau anak yang butuh perhatian ekstra karena baru masuk daycare.

Cara Membagi Tugas Mengasuh Anak untuk Pasangan yang Sama-Sama Bekerja

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dicoba pasangan yang sama-sama berkarier:

  • Buat daftar tugas harian—antar-jemput, menyiapkan bekal, rutinitas mandi dan tidur—lalu bagi berdasarkan jam kerja dan lokasi kantor masing-masing.
  • Sepakati siapa yang menjadi kontak utama daycare atau sekolah, agar informasi tentang anak tidak simpang siur atau terlewat.
  • Bergiliran mengambil cuti atau izin saat anak sakit, agar bebannya tidak selalu jatuh ke satu orang.
  • Bagi tugas administratif seperti membayar SPP, mengisi formulir kesehatan, atau menyiapkan dokumen daycare, bukan hanya tugas fisik sehari-hari.
  • Evaluasi pembagian tugas setiap beberapa bulan, sesuaikan dengan perubahan jam kerja atau tahap tumbuh kembang anak.

Yang penting bukan pembagian 50:50 yang kaku, melainkan kesepakatan yang terasa adil bagi kedua pihak dan bisa disesuaikan saat keadaan berubah. Fleksibilitas ini juga berkaitan dengan strategi mengatur waktu kerja secara keseluruhan, seperti yang dibahas dalam artikel work-life balance untuk karyawan yang punya anak di daycare.

Contoh Pembagian Berdasarkan Jadwal Kerja yang Berbeda

Setiap pasangan punya ritme kerja yang berbeda, jadi pembagian tugas juga sebaiknya disesuaikan, bukan disamakan begitu saja dengan keluarga lain. Misalnya, jika satu pihak berangkat kerja lebih pagi, pihak lain bisa mengambil tugas mengantar anak ke daycare. Sebaliknya, jika satu pihak pulang lebih cepat, ia bisa menjadi orang yang menjemput dan menemani anak di sore hari.

Untuk pasangan yang salah satunya sering dinas ke luar kota, pembagian tugas bisa dibuat dalam dua versi: pembagian saat kondisi normal, dan pembagian cadangan saat salah satu pihak sedang tidak di rumah. Dengan begitu, tidak ada kepanikan mendadak ketika salah satu pihak harus bepergian untuk urusan pekerjaan.

Daycare sebagai Mitra Pengasuhan, Bukan Pengganti Peran Orang Tua

Menitipkan anak ke daycare membantu meringankan beban harian, tapi bukan alasan untuk lepas tangan dari pengasuhan. Daycare yang baik justru berfungsi sebagai mitra: memastikan anak tetap terstimulasi dan aman selama kedua orang tuanya bekerja, sambil menjaga orang tua tetap terlibat dalam perkembangan anaknya.

Di Semesta Kecil (Kantong Daycare), misalnya, kegiatan harian disusun mengikuti kurikulum berbasis 5-6 domain perkembangan anak—meliputi aspek fisik-motorik, kognitif, bahasa, hingga sosial-emosional—sehingga waktu anak di daycare tetap bermakna, bukan sekadar “dititipkan”. Laporan harian dari pengasuh juga membantu kedua orang tua, siapa pun yang sedang bertugas menjemput hari itu, untuk tetap tahu apa yang terjadi dengan anak mereka sepanjang hari. Bagi pasangan yang bekerja di Jakarta Selatan dan ingin melihat langsung bagaimana daycare terpercaya bisa membantu pembagian peran ini, silakan berkunjung atau menghubungi tim Semesta Kecil untuk konsultasi lebih lanjut.

Membangun Komunikasi yang Sehat dengan Pasangan

Pembagian tugas yang baik selalu berjalan seiring dengan komunikasi yang sehat. Beberapa kebiasaan kecil yang membantu:

  • Luangkan waktu singkat setiap minggu untuk membahas jadwal anak minggu depan.
  • Saling mengapresiasi, bukan menghitung-hitung siapa yang berkorban lebih banyak.
  • Bersikap terbuka jika salah satu pihak merasa kewalahan, dan siap menyesuaikan pembagian tugas.

Komunikasi yang konsisten ini juga membuat kedua orang tua lebih siap menghadapi situasi tak terduga, seperti anak sakit mendadak atau perubahan jadwal kerja yang mendesak.

Mulai dari Kesepakatan Kecil, Bukan Kesempurnaan

Membagi tugas mengasuh anak untuk pasangan yang bekerja tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dari kesepakatan kecil yang realistis, lalu sesuaikan seiring waktu sambil terus berkomunikasi. Yang terpenting, kedua pihak merasa didengar dan anak tetap mendapat pengasuhan yang stabil, baik di rumah maupun saat dititipkan di daycare.

Artikel terkait

Ada pertanyaan? Chat kami di WhatsApp